Rabu, 03 Oktober 2018

Sebuah Review karya sastra oleh wartawan Indonesia, Mochtar Lubis tentang perang saudara di negeri gingseng. Mengungkap sisi lain perang Korea dari sudut pandang masyarakat, wartawan dan militer.

Judul : Catatan Perang Korea




Penulis : Mochtar Lubis
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tahun : I, Desember, 2010
Halaman : xxvii + 154 halaman
Harga : Rp. 30.000

Catatan perang korea adalah salah satu buku bergenre sastra karya wartawan legendaris Indonesia, Mochtar Lubis. Dalam bukunya ini juga disebutkan bahwa Mochtar jauh lebih bersemangat ketika menulis karya sastra dibanding karya yang bersifat jurnalistik dengan segala aturan yang harus ia ikuti. Menurutnya menulis karya jurnalistik hanyalah pekerjaan yang wajib Ia kerjakan, berbeda dengan karya sastra yang merupakan kecintaan dan tempatnya menumpahkan perasaan.
Perjalanan Mochtar Lubis ke Korea menghabiskan waktu yang cukup lama meskipun sebagian besar perjalanan ditempuh dengan pesawat udara. Bagaimana tidak, dalam perjalanan menuju Manila saja Ia harus berhenti sejenak di Surabaya untuk mengisi minyak, dan bermalam di Balikpapan untuk mendengar kisah-kisah militer Indonesia di daerah perbatasan. Begitu pula Manila yang tiga bulan tidak dikunjunginya, rumor penjualan senjata illegal membuat kota Manila dijaga ketat dan pemerintahan dipaksa memotong pengeluaran. Setelah tiba di Jepang, Mochtar Lubis diantar ke hotel khusus wartawan yang menjamunya dengan sangat baik. Namanya sendiri sudah ada di daftar tamu cukup lama. Tokyo juga telah banyak berubah, wanita-wanita Jepang sudah tidak berkimono lagi.
Lima jam dari Tokyo ke Pusan dilalui dengan kedinginan, jalanan sangat sepi dan butuh waktu lama hingga truk serdadu Texas membawa kami ke area pedesaan. Meskipun dekat, Korea sangat berbeda dengan Jepang. Di wilayah pegunungan yang jauh dari lokasi konflik, penduduknya serba sederhana. Serdadu Amerika sering bergurau bagaimana bangsa Korea menjadi bangsa yang paling ekonomis karena mereka makan hasil pertanian dan menggunakan kotoran manusia sebagai pupuknya. Mochtar juga beberapa kali menekankan bagaimana bau ladang-ladang di Korea yang melekat di pakaian.
Mochtar singgah di ladang warga setempat, sebuah gubuk tanpa pintu yang dihembus angin musim dingin. Menurut petani di ladang orang-orang Korea, peperangan hanyalah milik orang perbatasan. Tak satupun dari mereka disini yang mengerti keadaan pusat perang, yang mereka tahu jika serdadu Korea Utara menyerang desa mereka, mereka harus melarikan diri ke balik gunung untuk bertani lagi.
Dari Pusan ada sebuah jalan kereta api menuju ke Masan, 45 mil ke barat. Jalan kereta apinya masih baik akan tetapi kereta apinya yang tidak baik. Untung bisa naik kereta api dari Pusan sampai Masan dapat ditempuh selama 2 jam, tetapi bisa jadi perjalanan kereta ditempuh selama 14 jam, karena banyak terdapat kereta api yang sering membawa mesiu dan perbekalan perang. Masan kota yang mana terdapat pelabuhan kecil di pinggir sebuah teluk yang indah. Kesebelah barat terdapat sungai yang berliku – liku yang mengikuti punggung  – punggung gunung. Orang Korea Utara datang menyerang dari arah seberang sungai. Pasukan – pasukan PBB yang mengawal kota Masan telah menunggu mereka dari punggung – punggung gunung. Satu persatu orang Korea Utara menyebrangi sungai, dan mereka baru sadar bahwa mereka telah masuk perangkap Pasukan – pasukan Amerika. Dan akhirnya keliman puluh orang tewas di sungai itu.
Ketika itu Masan merupakan pangkalan terkemuka bagi front sebelah selatan. Stasiun yang penuh berisi dengan gerobak – gerobak mesiu, TNT, minyak, dan bahan yang mudah meledak. Pada beberapa hari berturut – turut ada sebuah pesawat yang melintas diatas stasiun, jika menembaki dan melempari sebuah bom, maka habislah seluruh stasiun yang berisi mesiu dan TNT. Kereta ke Pusan juga membawa 50 tahanan perang Korea Utara. Kebanyakan mereka anak – anak yang berumur empat belas atau enam belas tahun. Ada salah satu tahanan, seorang gadis Korea berumur 16 tahun, dia dijaga oleh 2 orang MP serdadu Amerika yang memakai senapan otomatis, karena dia telah menembak mati 4 orang Amerika dengan senapan otomatis di luar kota Masan.
Markas besar Tentara ke – 8 Amerika Serikat terletak di Taegu, dimana tempat para wartawan perang dalam markas besar.
Ada sebuah bandara yang telah lama tak ditempati atau tidak terpakai yaitu lapangan terbang Kimpo diluar kota Seoul. Beberapa hari yang lalu Amerika Serikat telah menguasai Kimpo sehingga mereka memperbaiki lapangan terbang tersebut, dan kini Kimpo ramai dibuat lalu lalang pesawat. Dipinggir kota Seoul terdapat bekas bekas pertempuran dimana rumah – rumah hancur terkena mortir dan ada dua tank yang bersembunyi disebuah rumah.
Ujingbu sebuah kota kecil diluar kota Seoul. Dekat dengan pelabuhan Inchon dan lapangan terbang Kimpo serta kota Seoul jatuh ke tangan tentara marine Amerika Serikat, maka pasukan Korea Utara mundur ke utara. Jalan dari kota Ujingbu melingkar dan  mendaki serta menuruni bukit – bukit yang tandus dan berbatu. Pada waktu dini hari tank – tank dan Palton Amerika Serikat telah bergerak sepanjang jalan itu, dengan tujuan serangan di kota Ujingbu. Dari bukit bukit sepanjang pinggir jalan datang tembakan – tembakan dari senjata ringan, dan serdadu Korea Utara yang masih bertahan. Pada akhirnya Ujingbu jatuh, tinggal membersihka kota dari gerombolan.
Hingga diakhir cerita, pada bab 8 yang berjudul “Bencana di Korea”,maka terjadilah bencana di Korea itu. Hari yang penting dalam sejarah, dimana pada hari itu adalah sejarah pertama manusia, ketika PBB mengangkat senjata melawan seorang penyerang untuk mempertahankan yang diserang. Mengingat sudah dari dahulu kala Korea selalu menjadi negara jajahan. Hingga ketika tahun 1802, Jepang datang ke Korea dengan tujuan meneruskan penyerbuan mereka terhadap kerajaan Ming di Tiongkok. Namun Korea juga melakukan perlawanan dengan banyuanorang Tionghoa yang datang membantu mereka, mereka bisa mengusir orang Jepang.
Setelah itu lebih kurang 100 tahun lamanya bangsa Korea menutup diri dari dunia luar, hingga Korea mendapat nama Kerajaan Pertapa. Riwayat semenjak itu hingga pecahnya bencana di Korea sekarang telah diketahui waktuya, semenjak saat itu telah banyak yang terjadi. Air mata, darah yang membanjir,seluruh kota rusak binasa, ditambah melayangnya jiwa manusia yang tak terhitung kuantitasnya. Semakin merajalela nya kesengsaraan dan kemelaratan.
Pertanyaan yang timbul dalam hati, apakah semua ini ada gunanya? Keruntuhan Peri Kemanusiaan. Terutama jika dilihat dari latar belakang perang ini bukan dari Internal Korea sendiri, melainkan karena benturan-benturan penguasa asing yang datang dari luar Korea.
Dari Karya ini kami mendapati sosok Mochtar Lubis sebagai seorang yang mudah bergaul, terus-terang, pandai serta bijaksana. Buku yang berlatar waktu 1950-an ini berkisah tentang peperangan  dimata masyarakat. Mochtar Lubis adalah seorang idealis yang sangat lugas mengekspresikan pikirannya menjadi kata-kata dalam karyanya. Ia seperti  tidak punya rasa takut dan bebas dari aturan. Dalam buku ini terdapat kata yang jarang digunakan dengan tata kalimat yang khas.